Blog Guru

Blog Guru Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Guru Indonesia Jago Ngeblog

Tema Gambar Slide 3

Guru Indonesia, Guru Kreatif , Ayo Berkarya melalui Blog

Sabtu, 10 September 2022

Koneksi Antar Materi

 Koneksi Antar Materi Modul 1 dan 2

oleh 

CPP A7 Gel 3 Aceh Utara - Intan Lestari, S.Pd



Menurut Pilosofi Pemikiran Ki Hajar Dewantara Pembelajaran yang memerdekakan adalah pembelajaran yang menuntun murid menunjukkan potensinya , Karena pembelajaran yang memerdekakan  menciptakan weel being murid. Murid belajar dengan nyaman tanpa tekanan. Pembelajaran menggunakan sistem Among/ momong penuh kasih sayang. Segala pembiasan yang menciptakan ke arah kebajikan .

Untuk mencapai pembelajaran yang memerdekakan tentunya dibutuhkan cara - cara atau prakarsa perubahan yang dapat mendukung proses kegitan pembelajaran yang berpihak kepada murid. Prakarsa perubahan ini dilaksanakan untuk memberikan dampak kepada murid. Prakarsa perubahan dapat juga disebut dengan praktik baik.

Prakarsa perubahan dapat dirancang dengan canvas ATAP .










Untuk mempertahankan keberlanjutan sebuah prakrsa perubahan tentunya harus melibatkan elemen - elemen tertentu. Sehingga pembiasaan - pembiasaan buah dari prakarsa tersebut dapat terus berjalan dan semakin baik. Oleh karena perlu ada rencana, tahapan , evaluasi, dan refleksi. Untuk menyusun prakarsa yang telah dirancang dengan canvas atap dapat digali lagi dengan menggunakan Inquiri Apresiatif dalam bentuk managemen BAGJA, yang di dalamnya akan terlibat pihak - pihak tertentu mendukung sebuah prakrsa perubahan tersebut.




Dalam membuat sebuah prakarsa perubahan tentunya terdapat tantangan , untuk itu perlu diadakan komunikasi agar tantangan - tantangan itu mendapatkan solusi. Untuk mencari solusi - solusi itu dengan membuat sebuah Fasilitasi. 



1. Konsep Fasilitasi

Fasilitator dan fasilitasi berasal dari kata facile dalam bahasa latin yang berarti mudah. Secara etimologi, fasilitasi diturunkan dari kata dasar to facilitate (kata kerja) dalam bahasa Inggris yang berarti membuat sebuah aksi atau proses menjadi lebih mudah. Memfasilitasi dapat diartikan sebagai proses yang memudahkan kelompok dalam mencapai tujuan. Fasilitasi berarti menjembatani orang-orang dalam mengungkapkan pendapat, menggali ide, menyelaraskan pemahaman dan mengambil keputusan atau kesepakatan melalui langkah-langkah praktis. Fasilitator adalah orang yang melakukan fasilitasi.



Pada dasarnya, proses fasilitasi merupakan proses:


Mendapat informasi --------> Memecahkan masalah ---------> Mengambil kesimpulan —----> membuat kesepakatan/keputusan bersama.

Fasilitasi tersebut bertujuan :

a. Langkah-langkah praktis yang memudahkan kelompok mencapai tujuan.

b. Memampukan anggota kelompok mengungkapkan pandangan tentang masalah yang mereka hadapi bersama.

c. Memampukan kelompok untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi bersama.

d. Memampukan peserta mengambil keputusan atau kesepakatan bersama untuk ditindaklanjuti bersama.
 
Sikap dasar Faislitasi

1) Kesadaran diri.

Memiliki kesadaran diri untuk hadir sepenuhnya mendampingi kelompok agar tujuan mereka tercapai. Memiliki kesadaran diri berarti menerima segala perbedaan, memberi waktu bagi otak untuk berpikir, mengelola emosi, fleksibel dan bersiap terhadap dinamika yang mungkin akan terjadi dalam sebuah kelompok.

2) Demokratis

Sikap demokratis memungkinkan seorang fasilitator menghargai perbedaan, keberagaman, toleransi, dialektis, saling memahami, menjalin hubungan yang positif dan mendorong kelompok mengambil keputusan yang bertanggung jawab.

3) Sistematis

Berpikir sistematis memungkinkan fasilitator membuat proses menjadi terstruktur dan terukur. Hal ini berguna agar fasilitasi dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Ini termasuk menyiapkan lingkungan yang sehat bagi kelompok.


4) Observatif

Melihat dan memetakan kebutuhan individu atau kelompok dengan jelas, menerima umpan balik, mendengarkan orang lain dengan perhatian sebanyak mungkin, dan menangkap sudut pandang yang berbeda untuk membantu kemajuan kelompok. Observasi dapat membantu fasilitator mengamati bagaimana konflik/ perbedaan pendapat terjadi, kapan harus mengintervensi, bagaimana cara mengintervensi dengan tepat dan kapan kelompok membutuhkan jeda.

5) Empati


Memahami situasi dan kesulitan yang terjadi, memahami latar belakang dan konteks budaya setempat dimana kelompok berada, reflektif, agar dapat membantu anggota kelompok lebih terbuka terhadap perubahan.

6) Percaya diri

Memampukan diri, mempunyai semangat dan daya lenting, melihat peluang, mengambil risiko dan mengatasi hal-hal yang tidak terduga, serta mengungkapkan konsekuensi dengan jujur.

7) Berpikiran terbuka

Setiap pertemuan dengan kelompok akan menghadirkan tantangan yang berbeda sehingga harus siap untuk beradaptasi. Fasilitator tidak harus memiliki semua jawaban, menahan diri untuk tidak mengajari, dan percaya bahwa orang lain memiliki sumber daya dalam diri mereka untuk menemukan jawaban mereka sendiri atas masalah yang mereka hadapi.

8) Obyektif

Kejelasan menjadi dasar pengetahuan fasilitator terhadap kelompok yang akan difasilitasi. Misalnya bagaimana situasi yang terjadi di dalam kelompok, apa yang akan dibicarakan oleh kelompok, dan berapa jumlah peserta kelompok. Berdasarkan data tersebut, fasilitator dapat dengan netral menentukan ruang lingkup, sumber belajar yang mendukung, durasi yang dibutuhkan, alat bantu yang digunakan, dan bagaimana proses fasilitasi akan berlangsung.

9) Fokus
Berkonsentrasi dalam memfasilitasi kelompok mencapai tujuan. Perhatikan detail untuk mendapatkan petunjuk yang bagi kebanyakan orang tidak terlihat, mengetahui adanya distraksi dan cara mengatasi distraksi. Menyisipkan satu atau dua humor kecil juga dapat membantu kelompok untuk menurunkan ketegangan dan mengembalikan fokus anggota kelompok.


Kompetensi Dasar Fasilitator


Dalam memfasilitasi pertemuan, Pengajar Praktik perlu memiliki kompetensi dasar yang dibutuhkan untuk bisa memandu jalannya pertemuan hingga tujuan tercapai. Kompetensi terdapat pada tabel berikut:



Kompetensi Dasar

Penjelasan singkat

Partisipasi

Kemampuan untuk menggali pemikiran terbaik anggota kelompok. Tujuannya agar anggota kelompok menjadi lebih berani dalam mengangkat masalah yang sulit dan belajar bagaimana membagikan ide mereka. Anggota kelompok menjadi lebih mahir dalam menemukan dan mengakui keragaman pendapat dan latar belakang yang melekat pada setiap anggota kelompok.



1. Mendorong semua anggota dapat mengungkapkan pemikirannya, atau paling tidak menyatakan persetujuan/ketidaksetujuan mereka terhadap pendapat dan ide dari anggota kelompok lain.

2. Mengumpulkan informasi yang relevan dari pemikiran anggota kelompok

3. Dan sebagainya. Contoh:

“Bagaimana pendapat Bapak/ Ibu tentang ...?” “Menurut Bapak/Ibu, bagaimana cara agar....?” “Apakah kita bisa menyepakati hasil pertemuan ini?” “Apakah maksud pernyataan Bapak/Ibu seperti....”?


Interaksi

Kemampuan untuk mengatur proses belajar yang kondusif, dan membangun dinamika yang sehat antar anggota kelompok. Tujuannya :

1. Melibatkan anggota kelompok untuk menghasilkan kesepakatan belajar dan komitmen untuk mematuhinya.

2. Melakukan rapid assessment

agar setiap anggota kelompok dapat saling menghargai dan saling terbuka.

3. Mendorong anggota kelompok terlibat mengambil peran dalam proses fasilitasi.

4. membangun dinamika dialog dengan seluruh peserta

5. Mendorong anggota kelompok saling berbagi satu sama lain.

6. Mengatur lalu lintas anggota yang berbicara atau bertindak.

7. Dan sebagainya



Contoh:

“Apa harapan Bapak/Ibu dalam pertemuan ini?” “Setelah Bapak/Ibu A, lanjut ke Bapak/Ibu B.”

“Sepakati siapa yang akan berbagi hasil diskusi kelompok”. “Apakah ada yang punya pendapat/ usulan yang berbeda?” “Apakah yang lain setuju dengan usulan Bapak/Ibu A?” “Siapa yang bisa membantu Bapak/Ibu A untuk menempelkan post-id?”


Visualisasi

Kemampuan menggunakan berbagai alat bantu visual. Tujuannya mendorong partisipasi, interaksi dan agar anggota kelompok tidak tertinggal informasi apapun.


Daring

Menggunakan aplikasi seperti Padlet, Jamboard, Mentimeter, PowerPoint/ slides, dan sebagainya.


Luring

Menggunakan post-it, kertas plano, metaplan, proyektor untuk menayangkan Power Point/ slides, dan sebagainya.


Dalam beberapa hal, alat bantu visual daring dapat digunakan juga untuk fasilitasi dengan moda luring, misalnya jamboard dan Power Point. Yang harus dipastikan adalah ketersediaan koneksi internet dan perangkat yang digunakan oleh anggota kelompok.



Dinamisasi


Seorang fasilitator harus mampu mendinamisasi rapat/sesi ketika terjadi perdebatan alot diantara anggota kelompok atau bahkan mengarah kepada hal-hal subjektif. Atau sebaliknya, ketika kelompok cenderung pasif sehingga fasilitator harus menghidupkan suasana agar kelompok yang difasilitasi menjadi aktif.

Ada beberapa cara untuk mendinamisasi forum/sesi agar berjalan sesuai yang direncanakan untuk mencapai tujuan bersama



1. Ice breaking atau games yang bertujuan menghidupkan suasana.

2. Mengajak peserta untuk berpikiran terbuka dan mampu menerima pendapat orang lain.

3. Mengajak untuk peserta untuk berpikir objektif dan menghilangkan unsur subjektif dalam setiap argumen/pernyataan yang disampaikan di rapat/sesi

4. Menarik persamaan pendapat peserta yang berdebat dan memisahkannya dengan perbedaan yang diperdebatkan, sehingga perbedaan dapat terlokalisir dan lebih mudah mengambil jalan tengah


Konklusi

Seorang fasilitator dituntut untuk mampu menarik kesimpulan rapat/sesi, namun juga harus membaginya secara demokratis, sehingga kesimpulan rapat/sesi merupakan kesimpulan bersama, bukan kesimpulan fasilitator.


Dalam sebuah rapat atau sesi, seorang fasilitator harus mampu mengambil kesimpulan dari seluruh pendapat dan argumen peserta rapat/sesi. Kemampuan tersebut meliputi :

1. Mampu menyimpulkan diskusi dengan tepat dan singkat

2. Menarik insight/pembelajaran selama diskusi

3. Merefleksikan apa yang sudah baik dan perlu diperbaiki

4. Meminta umpan balik

Demikianlah Pemaparan saya terkait Koneksi Antar Materi modul 1 dan 2 dan kaitannya dengan fasilitasi.

Wassalam
Salam Bahagia  





Selasa, 06 September 2022

Koneksi Antar Materi Penerapan Prinsip Yang Memerdekakan

 



Pembelajaran yang Memerdekakan



“Pendidikan merdeka itu … berdaya upaya dengan sengaja untuk

memajukan hidup – tumbuhnya budi-pekerti (rasa – pikiran, roh)

dan badan anak dengan jalan pengajaran, teladan, dan pembiasaan

jangan disertai perintah dan paksaan” (Ki Hadjar Dewantara).


Cara mendidik dibagi menjadi enam bagian:


1. Teladan

2. Pembiasaan

3. Pengajaran

4. Perintah, paksaan, dan hukuman

5. Laku (Sikap Utama)

6. Pengalaman lahir dan batin.


Implementasi Memerdekakan dapat di jabarkan :





Isu terkait pemahaman dan penerapan prinsip Pendidikan yang Memerdekakan yang terjadi di sekolah tempat saya bertugas yaitu Sekolah saya sudah melakukan Program - program yang berpihak kepada murid sejak saya mengikuti Program Pendidukan Guru Penggerak walaupun belum 100 persen. Persentasenya hanya sekitar 50% . Pembelajaran yang memerdekakan kami lakukan dengan melakukan pembelajran di luar kelas. Saya pribadi sebagai guru penggerak mengajak murid mengamati lingkungan sekitar saat belajar IPA, bahkan pelajaran Matematika pun saya ajak keluar dengan menghitung batu untuk mengajarkan konsep dasar perkalian. Praktik saya ini saya bagikan dan dilakukan oleh beberapa rekan. Ibu wali kelas 2 juga ikut menerapkan beliau mengajak anak keluar kelas . berdiri di samping lapangan dan mengajak anak - anak menghitung kendaraan dan melakukan proses penjumlahan dan pengurangan. Proses pembelajaran ini sudah kami anggap memerdekakan karena anak sudah merasa BAHAGIA. Selain itu pada proses pembelajaran lain di kelas saya sudah mulai menerapkan pembelajran berdiferensiasi saya memberikan bahan atau konten materi sesuai minat anak. Saya sudah memetakan mana murid saya yang hobi olah raga, sains, dan kesenian.

Selain itu saya dan beberapa rekan yang memilki kesamaan sudah membuat kesepakatan kelas yang berpihak pada murid. Dengan membuka ruang murid mengajukan ide ide kesepkatan yang akan disepakati.

Inilah Koneksi Antar Materi yang dapat saya paparkan sesuai dengan isu yang terjadi di tempat saya bertugas.

Terimakasih

Semoga bermanfaat

Salam BAHAGIA

Senin, 07 Maret 2022

The Power Of Love

 Kekuatan Cinta


Ketika jiwaku merasa tak memiliki apa - apa. Aku bukan siapa - siapa . Aku dikucikan dengan kekuranganku, aku terpuruk. Kala itu aku hancur , aku tak mampu berdiri tegak namun aku harus tetap melewati hari - hari , aku harus tetap berjalan diantara mereka namun aku tak kuasa.

Namun......ada sebuah kekuatan yang hadir , kekuatan biru yang tampak seolah memberi warna dalam kehidupanku, membuatku mampu berdiri menghadapi segala onak itu.

Cinta itu terus memberiku kekuatan hingga segala yang selama ini kurasa tak kumiliki telah kumiliki.

Aku bukan hanya mampu berdiri tegak bahkan aku merasa sangat kuat bersama cinta itu. Sampai detik ini pun aku tak pernah merasa takut. Karena kekuatan cinta itu bukan membuat ketakutan, bukan menjadikan lemah.



Jangan pernah takut genggam tanganku dan yakinlah akan kekuatan cinta kita.


Salam Bahagia

Intan Lestari

Minggu, 06 Maret 2022

Cinta yang pantas dipelihara

 Mudah untuk di ucapkan itulah kata cinta. Namun sulit untuk memaknai arti sesungguhnya. Hampir di setiap event di berbagai kalangan kata cinta diumbar umbar. 

Semudah dan semurah itukah artinya yang dapat kita maknai. 




Saya sendiri lebih setuju memelihara cinta dibandingkan dengan sekedar mengumbar kata cinta. Untaian kata dari Muhammad Agus Syafi'i diatas adalah cara yang paling tepat untuk memelihara cinta. 
Manusia hanyalah insan biasa yang penuh silap dan salah , jadi kemungkinan berbuat salah sudah pasti ada. Untuk itu tidaklah mungkin seseorang berjanji untuk tidak menyakiti. Tetapi berjanji untuk BERTAHAN adalah cara yang tepat untuk memelihara cinta itu sendiri.

Cinta yang tulus , cinta yang tak pernah mengharapkan balasan apapun. Cinta yang tercipta natural seiring waktu tanpa settingan. Cinta yang dapat menerima apapun itu, bagaimanapun itu. Dimana setiap liku, aral rintangan , berbagai warna kehidupan menghampiri namun RASA itu tetap utuh. 

Karenanya CINTA ITU PANTAS DIPELIHARA.








Salam CINTA
Salam BAHAGIA

INTAN LESTARI

Rabu, 30 Juni 2021

PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID


 AKSI NYATA MODUL 3.3 PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID
CGP - 1 -  ACEH UTARA - INTAN LESTARI



PROGRAM LITERASI DALAM BENTUK LOMBA MENULIS CERITA DAN PUISI

1 .Latar Belakang

  Literasi merupakan keterampilan penting dalam hidup, beragam kegiatan litrasi diantaranya melihat, membaca, mendengarkan, menulis dan berbicara. Gerakan Literasi Sekolah ( GLS ) adalah usaha yang dilakukan dalam rangka untuk mewujudkan sekolah sebagai organisasi pembelajar yang warga sekolahnya gemar membaca.

   Mengingat masih minimnya minat literasi siswa disekolah saya oleh karena itu sebagai CGP saya membuat program yang tentunya telah disetujui oleh kepala sekolah yaitu “ PROGRAM LOMBA MENULIS CERITA DAN PUISI “. Dengan berkolaborasi dengan rekan guru tentunya dengan menerapkan managemen ''MELR''.
  Sasaran pada program ini adalah siswa, dimana siswa yang sebelumnya tidak dapat membaca dengan lancar dan memahami isi bacaan akan termotivasi belajar membaca. Sehingga siswa tersebut mampu menciptakan karya tulis.

2. Tujuan Program

- Menumbuhkan Keberanian Murid Mengikuti Kompetisi

- Meningkatkan Minat Baca Murid

- Mewujudkan literasi dalam bentuk karya tulis

3. Deskripsi Aksi

Rapat Penyusunan Rencana Pelaksanaan Lomba Menulis bersama Pengawas, Kepsek , dan Dewan Guru ( Ket : Pengawas pada posisi meja kerja , Kepsek kemeja putih , CGP costum pink . Suasa rapat lebih rileks dengan sebagian duduk lesehan )







Persiapan perlombaan dewan guru membimbing siswa membaca ( kelas bengkel ) sekaligus mengarahkan cara menulis karangan baik dalam bentuk cerita maupun puisi.






Kolaborasi Tim Mensukseskan Perlombaan Menulis


Proses Perlombaan Tim Pengawasi Siswa Menulis Cerita atau Puisi


Pembagian Hadiah Lomba Menulis Cerita dan Puisi

4.Hambatan dan Tantangan

Hambatan dan tantangan yang dihadapi  adalah dukungan dan kerja sama dari orang tua siswa. Pihak Guru telah memberi informasi melalui WA grup untuk mendampingi siswa belajar membaca dan menulis di rumah tetapi kurang mendapatkan respon. Hanya beberapa orang tua yang mendukung. Selain itu perlombaan dilaksanakan untuk mengisi minggu tenang setelah mengikuti ujian semester, jadi masih ada wali murid yang tidak mengantarkan anaknya kesekolah, hal ini menjadi hambatan besar. Peserta perlombaan bukan keseluruhan jumlah siswa SDN 8 Muara Batu, tetapi hanya 75 %.

5. Hasil
Dari Hasil kolaborasi dengan kepsek, rekan sejawat dan sebelumnya meminta izin pengawas membuahkan hasil dari perogram yang sangat menyenangkan ( perasaaan senang dari CGP )
Berikut hal - hal yang berdampak pada siswa :
- Siswa menjadi berani mengikuti lomba
- Siswa termotivasi untuk membaca buku
- Siswa bersemangat belajar menulis cerita dan puisi


6. Tindak Lanjut

Komunikasi lebih kontinue dengan wali murid untuk ikut mendukung siswa belajar membaca dirumah. Serta membuat kelas bengkel membaca secara khusus yang dianggarkan pada RKAS.
Guru juga harus lebih bekerja keras lagi dalam membimbing siswa membaca dan menulis karena siswa masih banyak yang belum mengetahui kaidah penulisan, serta minimnya perbendaharaan kata dalam tulisanya.

7. Tolak Ukur
 Hasil tulisan tiswa pada saat lomba.







Hasil beberapa tulisan siswa yang terbaik namun masih banyak yang harus di perbaiki dan butuh bimbingan.

8. Dukungan

 - Kepsek
 - Rekan Sesama Guru
 - Orang tua murid.

Sebagai seorang CGP saya sangat bangga dan senang dapat berkolaborasi membangun team bersama warga sekolah untuk melakukan Program Yang Berdampak pada murid. Program ini sekaligus menjadi Evaluasi untuk terus memperbaiki segala kekurangan dari berbagi segi. Baik itu kekurangan dari siswa, guru maupun orang tua.
Demikian Aksi Nyata Program Yang Berdampak Pada Murid yang telah saya laksanakan di sekolah saya dengan melibatkan warga sekolah. Semoga bermanfaat.

Berikut link video arahan untuk siswa yang mengikuti lomba 










Jumat, 07 Mei 2021

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.2 PEMIMPIN DALAM PENGELOLA SUMBER DAYA

 PEMIMPIN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA

OLEH 

INTAN LESTARI




Sebagai seorang pemimpin, guru harus mampu mengidentifikasi aset yang ada disekitar nya. 
Sekolah merupakan sebuah ekosistem dimana guru merupakan anggota dari ekosistem tersebut, Anggota ekosistem adapun biotik dan abiotik,
Contoh biotik yaitu guru, murid, kepala sekolah dan masyarakat. Sedangkan anggota ekosistem abiotik sarana prasarana , keuangan dll.

Nah dalam menyusun sebuah program atau rancangan baik itu di kelas ataupun rancangan sekolah guru harus mampu memanfaatkan seluruh aset yang ada disekitarnya.
 Adapun Pendekatan yang digunakan dalam menyusun rancangan atau program berdasarkan indikator atau tujuan menggunakan dua Pendekatan, yaitu :
1. Pendekatan Berbasis Kekurangan ( Defisit Based Thinking )
2. Pendekatan Berbasis Aset ( Asset Based Thinkimg )



Menurut Green and Haines terdapat 7 kunci utama aset yang dapat kita kelola sebagai sumberdaya yang nantinya bermanfaat untuk tujuan pendidikan :
1. Modal Manusia
Contoh : Guru dengan kualifikasi akademik  dan skill yang terdapat pada dirinya melakukan suatu perubahan atau pembelajaran bermakna dan berpihak kepada murid .
2. Modal Fisik
Contoh : Perpustakaan, Lab Bahasa, Uks, Musallah , Mobiler dan Sarana Pendukung lainnya
3. Modal Budaya dan Agama
Contoh : Budaya seperti museuem, adat istiadat didaerah.
4. Modal Finansial
Contoh : Dana BOS Reguler, BOS Afirmasi, BOS Kinerja
5. Modal Politik
Contoh : Kerjasama dengan PLN, PDAM, Puskesmas, Telkom, Kepolisian
6. Modal Lingkungan
Contoh Letak gegrafis dekat dengan wilayah perikanan, perkebunan atau pegunungan dan pemnfaatnnya dapat mendukung pembelajaran
7. Modal Sosial
Contoh Hubungan dengan Komunitas atau organisasi : seperti PGRI, IGI dan Komunitas lain yang dapat mendukung kemajuan pendidikan.

Hubungan Pengelolaan Pemikiran Pilosofi Kihajar Dewantara dengan Pengelolaan Sumber daya yaitu Guru yang mampu menjadi pemimpin adalah guru yang mengetahui cara menggali kemampuan murid dan memnfaatkan sumber daya disekitarnya sesuai dengan kodrat anak agar anak dapat nyaman dan bahagia dalam belajar.

Hubungan Pengelolaan Sumberdaya dengan Nilai dan Peran Guru Penggerak yaitu Guru yang berkarakter mandiri, kolaboratif, dan inovatif mampu mengelola sumberdaya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan selalu berpikir positif tidak berpikir pada kelemahan.

Pengelolaan Sumber daya dapat disusun sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan merancang RPP sesuai kebutuhan murid ( Berdidferensiasi ), dan dibutuhkan pengendalian Sosial Emosional  ( KSE ) dalam menjalankan Pengelolaan Sumberdaya tersebut .

Saling berkomunikasi atau bertindak sebagai Coach dalam mencari sumberdaya yang tepat guna dan tepat sasaran. 

Menggali Kekuatan untuk menyusun Program sesuai dengan Inkuiri Afresiatif atau manajemen BAGJA dalam mencapai tujuan yang diharapkan.

Berikut Pemaparan saya dalam bentuk video 
 
Terima Kasih 
Semoga Bermanfaat
Salam Bahagia
Salam Guru Penggerak


Rabu, 14 April 2021

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1

 KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN


Pembelajaran Pendidikan Guru Penggerak telah memasuki modul 3, tepatnya 3.1. Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran.
Luar biasa dari hari keharinya saya mendapatkan ilmu yang sebelumnya belum saya dapatkan. ilmu yang terdapat pada modul Program Guru Penggerak semakin menantang dan menarik. 
Pengambilan Keputusan yang selama ini saya lakukan tanpa sistematika bahkan tanpa teori. 

Tetapi pada Program Guru Penggerak ini , yaitu modul 3.1, Guru dibekali cara mengambil keputusan dengan mempedomani 3 Prinsip, 9 Langkah , dan 4 Paradigma.



Prinsip Pengambilan Keputusan :
1. Prinsip Berbasis Peraturan ( Rule Based Thinking )
2. Prinsip Berbasis Hasil Akhir ( End Based Thinking )
3. Prinsip Berbasis Kepedulian ( Care Based Thinking )

Adapun 9 Langkah Pengambilan Keputusan

1. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan
 2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.
3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dalam situasi ini.
4. Pengujian Benar atau Salah
- Uji legal- Apakah ada aspek pelanggaran hukum dalam situasi tersebut? 
- Uji regulasi- Apakah ada pelanggaran peraturan/kode etik profesi dalam kasus tersebut? 
- Uji intuisi-  Berdasarkan perasaan dan intuisi Anda, apakah ada yang salah dalam situasi ini?
- Uji halaman depan koran- Apa yang Anda rasakan bila keputusan Anda dipublikasikan di halaman depan koran?  Apakah Anda merasa nyaman? Bila Anda tidak merasa nyaman, kemungkinan kasus tersebut bukan kasus dilema etika, namun bujukan moral.
- Uji panutan/idola- Kira-kira, apa keputusan yang akan diambil oleh panutan/idola Anda dalam situasi ini?
5. Pengujian Paradigma Benar atau Benar
6. Prinsip Pengambilan Keputusan
7. Investigasi Opsi Trilemma
8. Buat Keputusan
9. Tinjau lagi keputusan Anda dan refleksikan.

Adapun Paradigma terdapat 4 Paradiga :
4 Paradigma Dilema Etika:
1. Individu lawan Masyarakat
2. Kebenaran lawan Kesetiaan
3. Keadilan versus Belas Kasihan
4. Jangka Pendek versus Jangka Panjang

Hubungan Antara Pengambilan Keputusan dengan Pilosofi Ki Hajar Dewantara adalah guru sebagai teladan, pemberi semangat dan motivator, sehingga guru harus mampu mengambil keputusan yang tepat dan berpihak pada anak ( kebajikan yang berpihak pada anak ).
Begitu juga keterkaitan pada Nilai dan Peran Guru Penggerak, yaitu BERMANDI KOIN artinya Berkarakter Mandiri, Kolaboratif dan Inovatif. Dengan demikian guru harus mampu menerapkan nilai - nilai tersebut pada dirinya ketika dihadapkan pada kasus yang mengharuskan pengambilan keputusan.
Keputusan yang diambil harus dapat menciptaka lingkungan yang Positif, aman dan nyaman terutama bagi murid.

Dengan Proses Coaching sebagai Pemimpin maka kita akan diarahkan oleh pertanyaan - pertanyaan yang nantinya akan menuntun diri kita dalam mengambil keputusan tentunya melalui tahapan TIRTA.

Untuk lebih jelasnya pemaparan saya maka sahabat semua dapat menonton pada link dibawah ini :


TERIMA KASIH.
SEMOGA BERMANFAAT
SALAM BAHAGIA
SALAM GURU PENGGERAK
MERDEKA BELAJAR